ARSITEKTUR
Sultan
Mahmud Badaruddin I (Jayo Wikramo) meletakan batu pertama pendiri
Mesjid Agung pada 1 Jumadil Akhir 1151 H (=1738 M). Bangunan
ini berdiri dibelakang Kuto besak, Istana Sultan yang dulunya
terletak disuatu Pulau yang dikelilingi oleh Sungai Musi, Sungai
Sekanak, Sungai Tengkuruk, dan Sungai Kapuran.
Tahap pertama pembangunan berlangsung dari tahun 1738 hingga
1748. Mulanya masjid didirikan tanpa menara. Sultan Najamuddin
I, putra Sultan Mahmud Badaruddin I, lalu membangun menara
di sebelah kanan depan, berbentuk segi enam setinggi sekitar
20 meter.
Masjid yang mempunyai arsitektur yang khas dengan atap limas-nya
ini, konon merupakan bangunan masjid yang terbesar di nusantara
pada kala itu. Arsiteknya orang Eropa dan beberapa bahan bangunannya
seperti marmer dan kacanya diimpor dari luar nusantara. Kala
itu daerah pengekspor marmer adalah Eropa. Dari gambar sketsa,
atap limas mesjid ini bernuansa Cina dengan bagian ujung atapnya
melengkung ke atas. Dengan demikian, pada bangunan mesjid
itu terdapat perpaduan arsitektur Eropa dan Cina.

Sosok Masjid Agung saat ini cukup mencolok
di tengah Kota Palembang yang semakin padat dan semrawut.
Masjid berbentuk bujur sangkar dan bangunan utama berundak
tiga dengan puncak atau mustaka berbentuk limas. Undakan ketiga
yang menjadi puncak memiliki semacam leher yang jenjang yang
dihiasi ukiran bermotif bunga. Pada puncak mustaka terdapat
mustika berbentuk bunga merekah. Bentuk berundak dipengaruhi
bentuk dasar candi Hindu-Jawa, yang kemudian diserap Masjid
Agung Demak yang dipercaya didirikan Wali Songo, penyebar
Islam di Jawa.

Di atas sisi limas terdapat jurai daun simbar atau semacam hiasan
menyerupai tanduk kambing yang melengkung, sebanyak 13 setiap
sisinya. Jurai yang berwarna emas itu berbentuk melengkung dan
lancip. Tak pelak lagi, bentuk dasar jurai itu menyerupai atap
kelenteng.
Jendela masjid dibuat besar-besar dan tinggi, sedangkan tiang
masjid dibuat kokoh dan besar. Pilihan ini menimbulkan kesan
seperti umumnya arsitektur Eropa. Gaya itu juga banyak ditemui
pada bangunan Indies, yang dibuat semasa Indonesia dijajah
Belanda sekitar abad XVIII hingga awal abad XX.
Bangunan Masjid Pertama kali berukuran hampir berbentuk Persegi
empat yaitu 30 x 36 m. Keempat sisi bangunan ini terdapat
empat penampilan yang berfungsi sebagai pintu masuk, kecuali
dibagian barat yang merupakan mihrab. Atapnya berbentuk atap
tumpung, terdiri dari tiga tingkat yang melambangkan filosofi
keagamaan, atap berundak adalah pengaruh dari candi.
Bahan-bahan yang dipergunakan adalah bahan kelas satu eks
impor dari Eropa. Sulitnya mendatangkan material bangunan,
maka pekerjaan ini cukup lama dan Masjid Baru dapat di resmikan
pada Tanggal 28 Jumadil awal 1161 H atau 26 Mei 1748 M. Pada
awalnya Masjid ini tidak mempunyai menara, barulah pada Tahun
1753 di buat menara yang beratap genteng dan tahun 1821 ber
ganti atap sirap dan penambahan tinggi menara yang dilengkapi
dengan beranda lingkar.
Setelah 100 tahun lebih berdirinya masjid yaitu tahun 1848
diadakan rencana perluasan oleh Pemerintah Kolonial sebelum
perluasan diadakan perubahan bentuk gerbang serambi masuk
dari bentuk tradisional menjadi bentuk Doric.
Pada tahun 1879 telah diadakan perubahan masjid,
perluasan bentuk gerbang serambi masuk di bongkar ditambah
serambi yang terbuka dengan tiang benton bulat sehingga bentuknya
seperti Pendopo atau seperti gaya banguan kolonial ini adalah
perluasan pertama dan penambahan rancangan dan tahun 1874
dilaporan bentuk menara beruba dari aslinya dan tahun 1916
menara ini disempurnakan lagi. Pada tahun 1930 diadakan perubahan
yaitu menambah jarak pilar menjadi 4 m dari atap.

Setelah kemerdekaan tahun 1952 dilakukan perluasan ketiga
dengan bentuk yang tidak lagi harmonis dengan aslinya dengan
ditambah kubah. pengurus yayasan masjid agung 1966 -1979 meneruskan
penambahan ruangan dengan menambah bangunan lantai 2 yang
selesai tahun 1969. Pada tanggal 22 januari 1970 dimulai Pembanguan
menara baru dengan tinggi 45 meter, bersegi.
12
yang dibiayai Pertamina dan di resmikan pada Tanggal 1 Februari
1971. Sejak tahun 2000 Masjid ini di renovasi dan selesai
pada tanggal 16 Juni 2003 yang diresmikan oleh Presiden RI
Hj. Megawati Soekarno Putri.
Arsitektur Masjid Agung dan beberapa masjid lama di Palembang
menawarkan bentuk-bentuk yang simbolik. Undak-undakan di pelataran
dan di atap masjid, misalnya, melambangkan tarekat atau perjalanan
manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tingkat pertama
merupakan syariah atau tahap penertiban amal perbuatan yang
baik, sesuai dengan tuntunan agama. Tingkat kedua mencerminkan
hakikat atau proses pencarian atas ruh yang tersimpan di balik
perbuatan yang kasatmata. Tahap ketiga menjadi puncak perjalanan
karena manusia telah mengalami marifat, mengenal hakikat Tuhan.
Bentuk undak-undakan senantiasa mengajak manusia untuk mengasah
diri dengan menertibkan perbuatan, meraih makna, dan mengenal
Tuhan. Tahap-tahap itu merupakan perjalanan spiritual yang
tiada berakhir.
|